metavisi.com – Festival Daur Bumi yang digelar oleh Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) selama tiga hari, pada 12–14 Desember 2025, menjadi penutup akhir tahun 2025 yang penuh makna sekaligus penanda dimulainya perjalanan baru dalam pengelolaan persampahan Kota Makassar.
Festival ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan, melainkan ruang temu dan panggung kolaborasi bagi para penggiat lingkungan. Berbagai inisiatif, inovasi, dan praktik terbaik (best practices) dipertemukan untuk menunjukkan bahwa perubahan lingkungan, khususnya di sektor persampahan, lahir dari kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan.
Melalui Festival Daur Bumi 2025 ini, kontribusi positif komunitas lingkungan ditampilkan secara nyata. Selama ini, merekalah yang setia mendampingi warga dalam edukasi pengelolaan sampah, baik penggiat yang telah lama berkecimpung maupun mereka yang baru mengambil peran. Semua hadir dengan porsi, keahlian, dan minat masing-masing, memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah adalah kerja kolektif yang inklusif.
Pemerintah Kecamatan Biringkanaya dipimpin Camat Juliaman, S.Sos. juga mengambil bagian dalam kegiatan Festival ini dengan meramaikan Booth Kecamatan Biringkanaya dengan hasil karya dari pengrajin UMKM yang memanfaatkan daur ulang sampah, Teba modern, dan hasil Urban Farming. Sabtu 13/12/2025



Dalam kesempatannya Camat Biringkanaya Juliaman, S.Sos. menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap Kegiatan ini dan bertekad mendukung penuh program Daur Bumi sebagai langkah nyata menuju Makassar Bebas Sampah.
Beragam sektor turut ambil bagian. Terdapat penggiat pemilahan dan pengolahan sampah, pembuat produk daur ulang dari skala rintisan hingga yang telah menembus pasar internasional. Inovasi teknologi berbasis IT ditampilkan oleh SMK Telkom, pengelolaan sampah organik berbasis maggot oleh Urban Agrofarm, serta Magalarva—bisnis maggot yang telah menembus pasar global dan membuktikan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi dunia.
Pengolahan kompos skala rumah tangga dan kawasan dihadirkan oleh berbagai komunitas bersama Tumpuk Sampah. Pengelolaan minyak jelantah ditampilkan oleh Yayasan Pelipur, sementara praktik Eco Enzyme dan urban farming ditampilkan oleh Pemerintah Kecmaatan Biringkanaya, diperkuat oleh Komunitas Manggala Tanpa Sekat dan INLA yang konsisten membangun kebiasaan ramah lingkungan dari tingkat rumah tangga.
Komunitas yang mengombinasikan pengelolaan sampah dengan urban farming, seperti Kebun Tetangga dan Tanami Tanah Ta, menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan seiring dengan upaya ketahanan pangan. Media lingkungan Klik ID turut berperan dalam menyuarakan dan menyebarluaskan praktik-praktik baik tersebut kepada publik yang lebih luas.

Semoga dengan adanya kegiatan-kegiatan positif seperti ini dapat berdampak positif terhadap pola pikir Masyarakat agar lebih bijak lagi dalam mengelola sampah yang dihasilkan.
(sdm)